Selamat Datang di laman Program Studi Ilmu Bedah Universitas Sam Ratulangi

Sejarah

Sejarah Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Bedah

I.    Berdirinya Fakultas Kedokteran
Pada tanggal 28 Mei 1959 Fakultas Kedokteran didirikan di Manado, yang kemudian diakui sebagai Fakultas Kedokteran Negeri pada tanggal 26 Desember 1961. Dimulai sebagai Fakultas Kedokteran UNISUT (Universitas Sulawesi Utara) lalu menjadi UNSULUTTENG (Universitas Sulawesi Utara dan Tengah) dan akhirnya Fakultas Kedokteran UNSRAT ( Universitas Sam Ratulangi).


II.    DEKADE II 1959 - 1969
Sebagai RUMAH SAKIT pendidikan adalah RSUD gunung Wenang Manado, dimana bagian Bedahnya dipimpin oleh Dr. R.M. Enoch (alm). Sejalan dengan perkembangan Fakultas Kedokteran, maka bedah terus dibenahi, terutama setelah dokter H.O. Panda (alm), ahli bedah dari Fakultas Kedokteran UNAIR, menjadi dosen tetap yang sekaligus menjadi Kepala Bagian Bedah Fakultas Kedokteran UNSRAT yang pertama. Selama periode ini dimulai kegiatan berupa bimbingan mahasiswa (kuliah dan co-schaap) calon dokter umum.

III.    DEKADE 1969 - 1979
Dalam periode ini Fakultas Kedokteran UNSRAT mulai menghasilkan dokter umum, dengan lulusan dokter pertama pada bulan Februari 1969. Dengan demikian mulai dapat merekrut beberapa lulusan dokter menjadi tenaga staff/asisten keluar untuk mengikuti pendidikan ahli bedah mulai dilaksanakan dan akhir tahun 1975 Dr. R.S.M. Rampengan dapat menyelesaikan pendidikan ahli bedah di Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya dan kembali melengkapi staf di Bedah di UNSRAT.

IV.    DEKADE 1979 - 1989
Dalam masa ini, pengembangan staf terus diupayakan baik kuantitas maupun kualitas. Dr. A.E. Manoppo (alm) memperoleh Brevet Bedah Onkologi dan juga Digestif. Jumlah staf terus bertambah, dimana Dr. W.M Sumanti, ahli Bedah dari Fakultas Kedokteran UNHAS, pindah jadi staf / Dosen tetap di Fakultas Kedokteran UNSRAT, yang kemudian memperoleh Brevet Bedah Digestif.
Tenaga %u2013 tenaga staf/asisten yang dikirim keluar ke beberapa center pendidikan ahli bedah, mulai kembali setelah selesai pendidikan. Mereka adalah :
-  Dr. J. Karema (alm)        1980 (UNDIP)
-  Dr. J.F.L. Tangel         1980 (UI)
-  Dr. A. Monoarfa        1986 (UNAIR)
-  Dr. J. Ngantung        1986 (UNHAS)
-  Dr. R. Tungka, Sp.BO    1986 (UI)

Lahan pendidikan diperluas dengan memanfaatkan RS. Bethesda Tomohon. Peristiwa penting dalam periode ini adalah diangkat / dikukuhannya Dr. H.O. Panda (alm) sebagai Guru Besar.

V.    DEKADE 1989 - 1999
Jumlah staf Bedah makin diperkuat dengan kembalinya Dr. T. Lengkey setelah menyelesaikan pendidikan ahli bedah di UI (1990) dan DR. H. Limpeleh di UNHAS (1991). Demikian pula penambahan dokter spesialis bedah saraf Dr. Eko Prasetyo (1994). Juga bergabung dalam staf dr. L.T. Kalesaran, Sp.B. Beberapa peristiwa penting dalam periode ini adalah :
-    Tahun 1992 Bagian Bedah Fakultas Kedokteran UNSRAT, resmi diakui sebagai penyelenggara pendidikan spesialis Bedah dengan Kepala Bagian dipegang oleh dr. R.S.M. Rampengan, SpB.
-    Tahun 1993, Ketua Program Studi dipegang oleh dr. W. Sumanti SpB-KBD.
-    Tahun 1995 mulai beroperasinya RS Pendidikan yang baru yakni RSUP Manado di Malalayang, dimana Kepala Bagian sekarang dipegang oleh dr. F.J.L. Tangel SpB, SpOT.
-    Tahun 1996, Prof. Dr. A.E. Manoppo, SpB-Onk (alm) diangkat menjadi Kepala Bagian menggantikan posisi oleh dr. F.J.L. Tangel SpB, SpOT.
-    Tahun 1998 Prof. Dr. A.E. Manoppo, SpB-Onk (alm) diangkat / dikukuhkan sebagai guru Besar tetap.
-    Tahun 1999, dr. R.S.M. Rampengan, SpB diangkat menjadi Kepala Bagian menggantikan Prof. Dr. A.E. Manoppo, SpB-Onk (alm)

Peningkatan kualitas staf terus berlanjut dimana dr. A. Monoarfa mengikuti pendidikan lanjut untuk  spesialisasi bedah Urologi dan selesai tahun 1998 (UI). Dan Dr. J. Ngantung untuk spesialis Bedah Plastik, selesai tahun 1998 (UI). Dalam periode penyelenggaraan pendidikan Spesialis Bedah terus berkembang dengan menerima Residen dari beberapa daerah di Indonesia. Untuk itu pula lahan pendidikan lebih diperluas dengan memanfaatkan pula RSU. Kotamobagu, RSU Gorontalo, RS. Tahuna / Sanger Talaud.
Tahun 1996 berhasil meluluskan dokter Spesialis Bedah yang pertama.

VI.    DEKADE 1999 - JUNI 2003
Penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis Bedah terus berkembang disamping pendidikan dokter umum. Sampai dengan periofe ini telah dihasilkan 17 orang dokter spesialis bedah. Beberapa diantaranya direkrut untuk menjadi staf yaitu :
-    Dr. P.A.V. Wowiling, SpB
-    Dr. J. Penelewen, SpB
-    Dr. F. Silangen, SpB
-    Dr. N. Lumintang, SpB
-    Dr. V. Pontoh, SpB

Disamping itu penambahan seorang ahli Bedah Orthopaedi Dr. Boby N. Nelwan (2002). Bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Timika/Propinsi Papua, maka residen senior ditugaskan selama 3 bulan bergantian di RSU Timika. Dalam periode ini RUMAH SAKIT yang masih dimanfaatkan untuk pendidikan adalah RU Bethesda Tomohon dan RSU Tahuna / Sangige Talaud.
Pada tahun 2002, dr. F.J.L. Tangel SpB, SpOT diangkat menjadi Kepala Bagian, lalu tahun 2003 dr. A. Monoarfa SpB, SpU diangkat menjadi Ketua Program Studi menggantikan posisi dr. W. SUmanti, SpB-KBD.

VII.    DEKADE 2003 - 2008
Perkembangan dan peningkatan sumber daya manusia pada era 2003-2008 ini sangat terasa dalam program pendidikan bedah di Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Sebab dengan bertambahnya staf di masing-masing bidang, maka bagian bedah semakin melengkapi divisi-divisi untuk mengikuti tuntutan dari Kolegium Ilmu Bedah Indonesia. Pada dekade ini datangnya dr Djarot Noersasongko Sp.OT dari Universitas Indonesia Jakarta, dr Ramli Dali SpBP dari Bedah Plastik Universitas Airlangga Surabaya, dr. Ainun SpU dari Bedah Urologi Universitas Airlangga Surabaya. Dan mengirim dr Jimmy Panelewen SpB untuk mengikuti pendidikan subspesialis dibidang bedah digestif di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan dr. Victor Pontoh SpB mengikuti pendidikan subspesialis Bedah Onkologi di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin Makasar.
Pada dekade ini Bagian Bedah FK Unsrat kehilangan guru-guru seperti Prof dr. A.E Manoppo SpB(K).Onk FICS  (alm) dan Dr. Ruddy Tungka SpBO (alm), karena dipanggil Yang Maha Kuasa.
Pada tahun 2005,  dr Jimmy Panelewen SpB-KBD telah selesai mengikuti pendidikan  bedah digestif UI Jakarta, dan pada tahun 2006, dr. Victor Pontoh SpB.(K)Onk telah selesai mengikuti pendidikan  bedah Onkologi Universitas Hasanudin Makasar, Tahun 2006 bagian Bedah mengirim dr Nico Lumintang SpB mengikuti pendidikan Bedah Kepala Leher di bagian bedah Fakultas Kedokteran  UNAIR Surabaya, lalu mengangkat dr. H. Limpeleh SpB menjadi Ketua Program Studi menggantikan dr A. Monoarfa SpB, SpU.
Pada tahun 2007 dr Maxmillian Oley SpBS, telah selesai mengikuti  pendidikan Bedah Saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, kemudian dr Haryanto K. Sunaryo, SpOT telah selesai mengikuti pendidikan bedah orthopedi di Universitas Indonesia Jakarta, lalu  dr Nico Lumintang SpB (K)KL juga telah selesai mengikuti pendidikan subspesialis bedah Kepala Leher  Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Pada akhir 2007, dr. Ishak Lahunduitan SpB. SpBA bersedia untuk mengembangkan divisi Bedah Anak di Bagian Bedah FK Unsrat. Sehingga pemenuhan kebutuhan divisi serta staf pengajar semakin bertambah dan berkembang. Pada tahun 2007 ini, bagian bedah FK UNSRAT juga mengangkat dr. Jan Ngantung, SpB, SPBP menjadi Kepala Bagian menggantikan dr. F.J.L. Tangel, SpB, SpOT.
Sampai pada tahun 2007 pengelolaan bedah torakskardiovaskuler tetap ditangani oleh dr Hilman Limpeleh SpB sekaligus sebagai Ketua Program Studi. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan standar kompetensi Program Studi Ilmu Bedah, maka KPS / Bagian Bedah  membuat kerjasama dengan Bagian Bedah FK. UNAIR Surabaya khususnya divisi torakskardiovaskuler, sehingga Residen stase bedah lanjut di divisi torakskardiovaskuler dikirim ke  Departemen Bedah  FK UNAIR / RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama 2 bulan untuk mengikuti stase.
Untuk menambah jumlah serta variasi kasus dari PPDS, maka pada dekade ini kerjasama dengan Rumah Sakit Jejaring di perluas seperti RSU Aloei Saboe Gorontalo, RSU Limboto Gorontalo.
Dengan demikian IPDS-BU Fakultas Kedokteran UNSRAT memiliki beberapa divisi seperti bedah digestif, bedah onkologi dan Kepala Leher, bedah ortopedi, bedah saraf, bedah plastik, bedah urologi, bedah anak dan bedah torakskardiovaskuler. Pada akhir tahun 2008 FK UNSRAT bagian bedah telah meluluskan 43 dokter spesialis bedah.

VIII.    DEKADE 2009 - 2012
Pada dekade ini  bagian ilmu bedah mulai menempati gedung baru. Di tahun 2009, divisi bedah plastik bertambah 1 staf setelah dr Mendy Hatibie Oley, SpBP telah menyelesaikan pendidikannya di FK UI, kemudian divisi Urologi juga bertambah 1 staf setelah dr Lucas Wirawan, SpU menyelesaikan masa pendidikannya di FK UI.
Periode 2010, IKABI wilayah Manado sebagai tuan rumah panitia pelaksana MABI XVIII. Di akhir tahun ini, dari divisi digestif bertambah 1 staf lagi setelah dr Billy Salem, SpB-KBD telah menyelesaikan pendidikannya di FK UNHAS.
Periode 2011, dr Marcell Merung, SpB(K)Onk telah menyelesaikan pendidikannya di FK UI , kemudian dr Heber B Sapan, SpB-KBD juga telah menyelesaikan masa pendidikannya di FK UI. Pada akhir 2011, kolegium membuat revisi kurikulum ilmu bedah Indonesia. Dengan demikian IPDS-BU FK UNSRAT Manado menyesuaikan kurikulum tersebut, sehingga Program studi ilmu bedah FK UNSRAT memiliki 9 divisi masing-masing bedah digestif, bedah onkologi, bedah Kepala Leher, bedah ortopedi, bedah saraf, bedah plastik, bedah urologi, bedah anak dan bedah torakskardiovaskuler.
Pada tahun ini, kerjasama dengan rumah sakit jejaring bertambah, seperti RSUD Tidore, RSUD Toto, RS Mitra Masyarakat Timika, RSUD Liun Kendaghe Tahuna.
Hingga akhir 2011 jumlah peserta PPDS yang telah menyelesaikan masa pendidikannya di FK UNSRAT bagian bedah sebanyak 60 orang.